Info Sekolah
Jumat, 04 Sep 2026

MATERI KHUTBAH JUMAT “KITA SIBUK MENGEJAR DUNIA, TETAPI APA YANG SEDANG KITA KEJAR?”

Terbit : Jumat, 4 September 2026 - Kategori : Lain-Lain

 

KITA SIBUK MENGEJAR DUNIA,
TETAPI APA YANG SEDANG KITA KEJAR?

Bekerjalah untuk dunia, tetapi jangan sampai dunia membuat kita lupa kepada akhirat.

 

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah jumat rahimakumullah.

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Marilah kita menjalankan perintah-nya dan menjauhi segala larangan-nya. Sebab, sebanyak apa pun harta yang kita miliki, setinggi apa pun jabatan yang kita duduki, dan sebanyak apa pun pencapaian yang kita raih, semuanya tidak akan berarti jika kita kehilangan ketakwaan kepada allah.

Saya ingin mengajak diri saya dan jamaah sekalian untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana: untuk apa sebenarnya kita hidup? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sering kali kita tidak benar-benar memikirkannya.

Setiap pagi kita bangun, kemudian bekerja. Kita mencari nafkah, mengurus keluarga, mengejar target, membangun rumah, membeli kendaraan, menabung, memikirkan pendidikan anak, dan berbagai kebutuhan lainnya. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Tanpa terasa usia kita bertambah. Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “setelah semua yang saya kejar ini tercapai, lalu apa?”

Jamaah rahimakumullah.

Manusia memiliki sesuatu yang menarik dalam dirinya. Ketika mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkan, kebahagiaan yang dirasakan sering kali tidak bertahan selamanya. Ketika seseorang belum memiliki rumah, ia berpikir, “seandainya saya punya rumah, pasti hidup saya lebih tenang.” Ketika rumah sudah dimiliki, muncul keinginan lain. Setelah kendaraan didapatkan, muncul keinginan berikutnya. Penghasilan meningkat, tetapi kebutuhan dan keinginan pun ikut meningkat.

Inilah salah satu fenomena yang dalam ilmu psikologi dikenal sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali terbiasa dengan kondisi yang sebelumnya dianggap istimewa. Karena itu, sesuatu yang dahulu membuat kita sangat bahagia, lama-kelamaan terasa biasa. Bukan karena nikmat Allah berkurang, tetapi karena manusia terbiasa dengan nikmat tersebut dan kemudian menginginkan sesuatu yang baru.

 

 

Jamaah jumat yang dirahmati Allah.

Kalau kita tidak berhati-hati, kehidupan bisa berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Kita terus mengejar sesuatu. Setelah mendapatkannya, kita mengejar sesuatu yang lain. Kita bekerja lebih keras agar mendapatkan lebih banyak. Tetapi setelah mendapatkan lebih banyak, kita justru merasa masih kurang. Akhirnya yang bertambah bukan hanya harta, tetapi juga kekhawatiran. Yang bertambah bukan hanya kesibukan, tetapi juga kelelahan. Yang bertambah bukan hanya pencapaian, tetapi juga tuntutan.

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan kita:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

 

Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa harta itu haram. Allah tidak mengatakan bahwa bekerja itu salah. Allah tidak mengatakan bahwa memiliki rumah, kendaraan, usaha, atau penghasilan yang baik adalah dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu membuat kita lalai. Ketika mengejar dunia membuat kita lupa kepada akhirat. Ketika mencari rezeki membuat kita meninggalkan salat. Ketika membangun kehidupan keluarga membuat kita lupa membangun iman keluarga. Ketika mengejar kesuksesan membuat kita lupa bahwa suatu hari kita akan kembali kepada Allah.

Jamaah rahimakumullah.

Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk bekerja, mencari nafkah, berusaha, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Tetapi Islam mengajarkan kita untuk menempatkan dunia pada tempatnya. Dunia berada di tangan, bukan di hati.

Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki kita. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qasas: 77)

 

Ayat ini sangat seimbang. Carilah akhirat, tetapi jangan lupakan dunia. Artinya, seorang muslim bukan orang yang meninggalkan dunia. Seorang muslim adalah orang yang menggunakan dunia sebagai jalan menuju akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Coba kita bayangkan kehidupan kita seperti sebuah perjalanan. Ketika seseorang melakukan perjalanan jauh, apakah tujuan utamanya adalah kendaraan yang digunakannya? Tentu tidak. Kendaraan hanya alat untuk sampai kepada tujuan. Begitu juga dunia. Harta adalah alat. Pekerjaan adalah alat. Jabatan adalah alat. Ilmu adalah alat. Kesehatan adalah alat. Keluarga adalah amanah sekaligus sarana untuk mendapatkan rida Allah.

Jangan sampai kita sibuk memperbaiki kendaraan, tetapi lupa ke mana sebenarnya kita akan pergi.

Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk membangun rumah yang nyaman. Namun akhirnya dia tidak memiliki waktu untuk menikmati rumah tersebut bersama keluarganya. Ada yang

 

bekerja keras untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya. Tetapi karena terlalu sibuk bekerja, dia tidak sempat mendidik anak-anaknya tentang salat, akhlak, dan Al-Qur’an.

Ada yang mengejar kesehatan dengan berbagai cara. Namun ketika sehat, waktunya justru habis untuk mengejar dunia dan lupa beribadah. Ada yang sangat takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan waktu untuk salat. Ada yang sangat memperhatikan penampilan di hadapan manusia, tetapi tidak terlalu peduli dengan keadaan hatinya di hadapan Allah.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Inilah yang harus kita renungkan. Jangan sampai kita berhasil membangun kehidupan yang terlihat indah dari luar, tetapi kosong di dalam. Jangan sampai rumah kita semakin besar, tetapi komunikasi dengan keluarga semakin kecil. Jangan sampai rekening kita semakin banyak, tetapi sedekah kita semakin sedikit. Jangan sampai ilmu kita semakin tinggi, tetapi kesombongan kita juga semakin tinggi. Jangan sampai usia kita semakin bertambah, tetapi kedekatan kita kepada Allah justru semakin berkurang.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Ada satu hal yang sering kita lupakan. Kita hidup seolah-olah memiliki banyak waktu. Padahal sebenarnya kita hanya memiliki hari ini. Kemarin sudah berlalu. Besok belum tentu kita temui. Yang benar-benar berada di tangan kita hanyalah kesempatan yang Allah berikan saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34)

 

Kita tidak tahu kapan giliran kita dipanggil. Bisa jadi seseorang masih memiliki banyak rencana. Masih ingin membeli rumah. Masih ingin membangun usaha. Masih ingin menyelesaikan pendidikan. Masih ingin menikmati masa pensiun. Tetapi kematian tidak menunggu semua rencana itu selesai.

Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi baik. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu lapang untuk beribadah. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya keluarga. Jangan menunggu Ramadan untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Dan jangan menunggu kematian mendekat untuk kembali kepada Allah.

Jamaah rahimakumullah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

 

Seorang musafir tidak akan membawa semua yang dia temui dalam perjalanan. Dia mengambil apa yang diperlukan untuk sampai ke tujuan. Begitu pula kita. Ambillah dunia secukupnya untuk menjadi bekal menuju akhirat.

Carilah rezeki, tetapi jangan melupakan pemberi rezeki. Bangunlah keluarga, tetapi jangan lupa bahwa keluarga juga akan menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah. Carilah ilmu, tetapi jadikan ilmu sebagai jalan untuk semakin takut kepada Allah. Gunakan harta, tetapi jangan menjadi hamba harta. Gunakan waktu, tetapi jangan habiskan waktu untuk sesuatu yang tidak akan kita bawa ketika meninggal dunia.

 

Jamaah rahimakumullah.

Maka mulai hari ini, mari kita ubah cara kita mengejar dunia. Bekerjalah, tetapi niatkan sebagai ibadah. Mencari nafkah, niatkan untuk memenuhi kewajiban kepada keluarga. Mendidik anak, niatkan sebagai amanah dari Allah. Belajar, niatkan untuk menghilangkan kebodohan dan memberikan manfaat. Berbisnis, jadikan kejujuran sebagai modal utama. Memiliki harta, jadikan sebagian sebagai jalan untuk bersedekah.

Ketika semua itu dilakukan karena Allah, pekerjaan yang terlihat duniawi dapat bernilai ukhrawi.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kita tidak membutuhkan kehidupan yang sempurna untuk menjadi bahagia. Kita membutuhkan hati yang tahu kepada siapa harus bersyukur. Kita tidak harus memiliki semuanya untuk merasa cukup. Kita membutuhkan qanaah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan sambil tetap berusaha mencari yang lebih baik.

Kita tidak harus mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Kita hanya perlu memastikan bahwa hari ini kita berada di jalan yang diridai Allah.

Maka mulai sekarang, sesekali berhentilah dari kesibukan dan tanyakan kepada diri kita: “Kalau hari ini adalah hari terakhir saya, apakah yang sedang saya lakukan sekarang adalah sesuatu yang ingin saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?” Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tetapi jika kita benar-benar merenungkannya, ia dapat mengubah cara kita menjalani hidup.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan dunia. Yang kita bawa bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan, bukan jumlah pengikut, dan bukan popularitas. Yang kita bawa adalah amal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

 

Maka jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya miliki?” Tetapi tanyakan juga: “Berapa banyak yang sudah saya syukuri? Berapa banyak yang sudah saya sedekahkan? Berapa banyak orang yang sudah saya bantu? Seberapa dekat hubungan saya dengan Allah? Dan apa yang sudah saya persiapkan untuk hari ketika saya berdiri di hadapan-Nya?”

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Semoga Allah memberikan kepada kita dunia yang cukup di tangan, tetapi tidak memenuhi hati kita. Semoga Allah memberikan kepada kita rezeki yang halal, keluarga yang saleh, kesehatan yang bermanfaat, ilmu yang berkah, dan hati yang selalu mengingat-Nya.

Semoga Allah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup kita, tetapi menjadikannya sebagai sarana menuju keridaan-Nya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita pulang dari masjid ini dengan satu tekad: kita akan tetap bekerja keras, tetapi tidak melupakan Allah. Kita akan mencari rezeki, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Kita akan membangun kehidupan, tetapi tidak melupakan akhirat.

Jangan ukur keberhasilan hanya dari apa yang berhasil kita kumpulkan. Ukurlah juga dari seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita lakukan.

Jangan hanya meninggalkan warisan berupa harta. Tinggalkan juga doa dari anak-anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga ketika suatu hari kita meninggalkan dunia ini, ada orang yang mendoakan kita, ada amal yang terus mengalir, dan ada kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.

 

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِيْنَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوْبِنَا.

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيْهِ.

اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.

اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى أَنْفُسِنَا تَكِلْنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.

اللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

اللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوْبَنَا، وَاقْضِ حَوَائِجَنَا، وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

 

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

✦  وَاللّٰهُ أَعْلَم ُ  ✦

 

INFORMASI DONASI & OPERASIONAL

REK. BANK MANDIRI: 1380 0238 66853
AN. YAYASAN PEJUANG BAIK
KONFIRMASI DONASI:
📲 0821-2000-9366

 

 

Artikel Lainnya

Oleh : Pesantren IT Darul Fithrah

AWAS DEMAM RIYA!

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses