SEKILAS INFO
: - Senin, 31-10-2022
  • 1 minggu yang lalu / Hadirilah !!! Tabligh Akbar (Membumikan kisah tadabbur Alqur’an) bersama: Habib Ja’far Al Jufri | Ahad 23 Oktober 2022 pukul : 06.45 – selesai    
  • 1 bulan yang lalu / Ahad, 25 September 2022 pukul 08.00  Tabligh Akbar bersama Ust. Kholil Abu Ausath, SE
  • 2 bulan yang lalu / Sabtu 6 Agustus 2022 | Kajian Umum Tafsir Mimpi bersama Syaikh Ghamdan Ahmad Riziq Syuraih asal Yaman
Ajarkan Iman Pada Anak Sebelum Al-Qur’an

Oleh : Ust. Mujahid Ammar

Pentingnya Mendidik Anak

Tiada aset yang paling berharga bagi orang tua selain anak. Anak itu bagaikan ladang yang amat luas bagi orang tua. Jika ladang itu dikelola dan dirawat dengan baik maka akan menghasilkan tanaman dan buah-buahan yang baik pula. Yang kelak dapat bermanfaat bagi pemiliknya di kemudian hari. Sebaliknya, jika ladang tersebut dibiarkan tanpa adanya pengelolaan, maka ladang tersebut hanya akan menumbuhkan semak belukar yang tak bermanfaat atau bahkan membahayakan pemiliknya. Karena tak menutup kemungkinan ladang itu akan menjadi sarang tikus ataupun ular berbisa. Sama halnya jika ladang itu dikelola namun dengan cara yang salah, maka yang tumbuh adalah tanaman yang tidak produktif, yang tidak memberikan manfaat kepada pemiliknya kecuali sedikit saja. Maka sudah menjadi kewajiban bagi orangtua yang ingin mendapat manfaat dunia akhirat dari anak-anaknya, untuk mendidik mereka dengan pendidikan yang benar.

Tahapan dalam Mendidik Anak

Layaknya menanam padi, mendidik anak itu butuh tahapan. Untuk menghasilkan anak yang shalih dan shalihah bukan sesuatu yang instan, namun membutuhkan tahapan dan proses yang panjang. Dalam tahapan-tahapan mendidik anak ada cara yang benar dan ada cara yang salah. Tahapan yang benar adalah tahapan yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau mendidik para sahabatnya termasuk di dalamnya putra-putri dan cucu-cucu beliau. Tahapan ini merupakan tahapan yang terbaik karena metode yang Rasulullah ﷺ gunakan berasal dari wahyu yang beliau terima dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan tahapan ini telah terbukti keberhasilannya. Hal itu dapat dilihat dari generasi sahabat yang dididik oleh Rasulullah ﷺ, mereka telah terbukti sebagai orang-orang yang hebat.

Jundub bin Abdillah radhiyaallahu ‘anhu menjelaskan bagaimana tahapan yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ tersebut, “Dahulu saat kami masih anak-anak kami bersama Rasullah . Kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Kemudian setelah kami belajar iman, kami belajar Al-Qur’an sehingga iman kami pun bertambah kuat.” (HR. Ibnu Majah) 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa tahapan dalam mendidik anak adalah dengan mengajarkan mereka iman terlebih dahulu sebelum mengajarkan Al-Qur’an. Yang dimaksud dengan belajar iman adalah belajar nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Yaitu mengenalkan anak tentang siapa Allah, tentang perintah dan larangan-Nya yang ada di Al-Qur’an secara global. Adapun yang dimaksud belajar Al-Qur’an adalah belajar membacanya dengan baik dan benar termasuk juga menghafalkannya.

Dahulu para sahabat ketika anak mereka baru bisa berbicara mereka membimbingnya untuk mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. Dari sini bisa diketahui bahwa anak harus dikenalkan dengan Allah sedini mungkin. Di antara cara mengenalkan anak dengan Allah adalah dengan mengajak mereka berdiskusi sesuai dengan umur mereka. Misalnya ketika orangtua mengajak anaknya jalan-jalan melihat gunung, bintang, bulan, awan, matahari dan sebagainya, hendaknya anak dikenalkan bahwa itu semua diciptakan oleh Allah. Atau ketika mereka meminta sesuatu, hendaknya orangtua membimbing mereka untuk meminta segala sesuatu kepada Allah dengan berdo’a. Sehingga ketika orangtua meninggal, mereka tidak kebingungan dan salah kepada siapa mereka harus menggantungkan urusan mereka.

Nilai-Nilai Pendidikan Iman

Berikut ini adalah nilai-nilai dalam Al-Qur’an yang harus diajarkan kepada anak :

1. Akidah

Akidah adalah perkara keyakinan. Yang mana ini adalah asas yang harus ada dalam jiwa setiap muslim. Seorang anak harus dikenalkan pada akidah yang shahihah dan juga konsekuensinya. Termasuk di antaranya adalah mengetahui hak-hak Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

2. Ibadah

Setelah memiliki keyakinan kepada Allah, maka hendaknya si anak dibimbing untuk melakukan ibadah sebagai bukti iman. Contoh dari ibadah adalah shalat, zakat, puasa, dan haji. Pengajaran ibadah kepada anak tidak perlu menunjukkan kepada mereka dalil dari Al-Qur’an ataupun hadits, namun cukup dengan mengenalkan mereka tentang kewajiban seorang muslim kepada Allah dan memberikan contoh pengamalannya.

3. Akhlak

Akhlak adalah perangai dan perilaku seseorang. Baik kepada orangtua, saudara, teman, tetangga dan bahkan kepada tanaman dan hewan. Anak-anak harus dikenalkan pada akhlak-akhlak terpuji yang harus dimiliki dan akhlak-akhlak tercela yang harus dijauhi.

Tiga nilai ini harus diajarkan kepada anak secara global sebelum mengajarkan mereka untuk membaca Al-Qur’an.

Metode dalam Mendidik

Ada 2 cara mengajarkan nilai-nilai dalam Al-Quran kepada anak :

1. Ucapan

Yaitu sebagaimana yang di contohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits. Dari Abdullah bin Abbas radhiyaallahu ‘anhu  ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi , lalu belaui bersabada, “Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menerangkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan Abdullah bin Abbas yang saat itu masih anak-anak untuk selalu bergantung kepada Allah.

2. Perbuatan

Yaitu hendaknya orangtua mempratekkan nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an, baik dalam ibadah maupun akhlak. Seperti shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdo’a, cara bertutur kata dan berbagai bentuk ibadah dan adab lainnya. Dengan mempraktekkan hal itu, anak akan menyaksikan langsung dan kemudian meniru perbuatan tersebut dari orangtua mereka. Karena sejatinya anak-anak itu adalah peniru yang baik dari apa saja yang ia lihat. Seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, dimana beliau selalu mengerjakan shalat tahajjud setiap malam. Hal ini diketahui oleh Abdullah bin Abbas yang masih kecil. Walhasil ia pun bangun di malam hari dan ikut shalat malam bersama Nabi.

Setelah mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, barulah orang tua mengajarkan cara membaca Al-Qur’an. Mulai dari makharijul huruf, shifatul huruf, dan hukum-hukum bacaan dalam Al-Qur’an. Kemudian orang tua membimbing sang anak untuk menghafal Al-Qur’an dimulai dari surat-surat pendek. Juga melatih anak agar senantiasa melazimi Al-Qur’an diselingi dengan motivasi dari hadits-hadits Nabi ﷺ tentang keutamaan-keutamaan ahlul Qur’an.

Saat ini banyak kajian ataupun dauroh yang mengajarkan cara membaca Al-Qur’an secara mendetail. Juga berbagai pelatihan tentang metode menghafal yang efektif. Ini adalah perkara yang baik, tetapi jangan sampai para orang tua terlalu disibukkan dengan belajar cara membaca Al-Qur’an sampai melupakan mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Penutup

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya. Allah yang menciptakan manusia tentu tahu bagaimana mendidik manusia menjadi makhluk yang beradab. Karena itulah Allah mengutus seorang pendidik terbaik sepanjang masa untuk mendidik manusia sekaligus menjadi teladan dalam segala hal, salah satunya dalam hal pendidikan. Pendidik tersebut tak lain adalah Rasulullah ﷺ, yang membawa metode pendidikan terhebat yang pernah ada, karena metode tersebut langsung dari Sang Pencipta manusia. Jika metode yang dibawa Rasulullah ini diterapkan, in syaa Allah anak-anak yang di didik pun akan menjadi generasi rabbani yang hebat dan shalih shalihah.

Rabu, 26-10-2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip