Info Sekolah
Selasa, 20 Okt 2026

“Jangan Takut kepada Kubur, Takutlah Pulang Tanpa Bekal”

Terbit : Senin, 19 Oktober 2026

“Jangan Takut kepada Kubur, Takutlah Pulang Tanpa Bekal”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sdrku yang dirahmati Allah…
Ada satu tempat yang pasti akan kita datangi, tetapi sering kita lupakan: kuburan.

Kita takut membicarakan kubur. Takut membayangkan gelapnya. Takut membayangkan sendirian. Tetapi sebenarnya, yang paling perlu kita takutkan bukanlah kuburnya. Yang perlu kita takutkan adalah ketika kita masuk kubur dalam keadaan tidak membawa bekal.
Kita boleh punya rumah besar, tetapi rumah itu tidak ikut masuk kubur.

Kita boleh punya mobil bagus, tetapi mobil itu tidak ikut mengantar kita ke alam barzakh.
Kita boleh punya uang banyak, jabatan tinggi, gelar panjang, dan anak-anak yang berhasil. Tetapi ketika kain kafan membungkus tubuh kita, semuanya berhenti di dunia.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ»
Latin:
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha waltanzhur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh. Innallāha khabīrun bimā ta‘malūn.

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Hasyr: 18

Perhatikan kalimat ini:

مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Mā qaddamat lighad.

“Apa yang telah dia persiapkan untuk hari esok.”
Hari esok yang dimaksud bukan besok pagi.
Bukan Senin.
Bukan tahun depan.
Tetapi hari akhirat.

1. Jangan Takut kepada Kubur, Takutlah Tidak Punya Bekal

Sdrku yang dimuliakan Allah…
Kalau kita masuk rumah orang, biasanya kita membawa oleh-oleh.
Kalau bertamu, kita membawa sesuatu.
Kalau pergi perjalanan jauh, kita menyiapkan bekal.

Lalu kita akan melakukan perjalanan yang paling jauh dan tidak bisa kembali, apakah kita tidak perlu membawa bekal?
Itulah perjalanan menuju akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:

«يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ»
Latin:
Yattabi‘ul-mayyita tsalātsatun, fayarji‘utsnāni wa yabqā wāhidun. Yattabi‘uhu ahluhu wa māluhu wa ‘amaluhu, fayarji‘u ahluhu wa māluhu, wa yabqā ‘amaluhu.

Artinya:
“Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua di antaranya kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
HR. Bukhari dan Muslim.

Subhanallah…
Ketika kita meninggal:
Keluarga mengantar sampai makam.

Harta ditinggalkan.
Rumah ditinggalkan.
Kendaraan ditinggalkan.
Tetapi amal tidak meninggalkan kita.

2. Kisah yang Sangat Menggetarkan

Ada seseorang yang ketika hidupnya sangat kaya.
Rumahnya besar.
Kendaraannya banyak.
Tabungannya luar biasa.

Suatu hari ia meninggal dunia.
Ketika jenazahnya dibawa menuju pemakaman, semua yang ia cintai seolah ikut mengantarnya.
Keluarga menangis.
Tetangga berdiri.

Sahabat mengiringi.
Tetapi setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat…
semuanya pulang.
Rumah pulang.
Keluarga pulang.
Kendaraan pulang.
Harta tetap di rumah.
Dan yang tinggal bersama dirinya hanyalah:

Amal shaleh

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:
«“Kalau malam ini Allah memanggil saya, apa yang akan saya bawa?”»
Bukan apa yang kita punya.
Tetapi apa yang sudah kita lakukan.

3. Ada Orang yang Takut Mati, Padahal yang Ditakutkan Seharusnya Bekal yang Kurang

Kadang kita berkata:
“Wah, saya takut mati.”
Sebenarnya takut mati itu manusiawi.
Tetapi seorang mukmin hendaknya tidak hanya takut kepada kematian.

Ia harus bertanya:
“Sudahkah saya siap menghadapi kematian?”

Takut mati tetapi masih suka menyakiti orang.
Takut kubur tetapi masih meninggalkan shalat.
Takut akhirat tetapi masih senang mengambil hak orang.
Takut neraka tetapi masih memelihara iri dan dengki.

Artikel Lainnya

Oleh : Pesantren IT Darul Fithrah

LIPOSUCTION DALAM PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH | Part I

Oleh : Pesantren IT Darul Fithrah

ANTARA HARAPAN DAN AJAL | Dua Yang Tak Sama

Oleh : Pesantren IT Darul Fithrah

MAQASHID SYARIAH | Liposuction Part II

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses