KHUTBAH PERTAMA
| إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. |
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Di hari yang penuh keberkahan ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas kasih sayang-Nya yang tidak pernah terputus, kita masih diberi kesempatan melangkah ke rumah-Nya yang mulia ini.
Marilah kita terus berikhtiar meningkatkan ketakwaan kita. Takwa yang bukan lahir dari rasa takut yang mencekam, melainkan takwa yang bersumber dari rasa cinta, rindu, dan kesadaran betapa butuhnya diri kita kepada rahmat Allah Azza wa Jalla.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Di tengah perjalanan hidup yang begitu cepat ini, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada hati nurani kita: “Mengapa akhir-akhir ini aku merasa begitu lelah?”
Lelah yang dimaksud di sini bukanlah sekadar lelah fisik setelah seharian membanting tulang bekerja. Lelah fisik bisa hilang hanya dengan tidur beberapa jam. Namun, yang sering kita rasakan adalah lelahnya jiwa—perasaan cemas tanpa sebab yang jelas, hati yang terasa hampa meski kebutuhan materi terpenuhi, serta pikiran yang terus berputar memikirkan hari esok yang belum tentu terjadi.
Kita hidup di zaman di mana semua hal dituntut cepat. Kita dituntut sukses dengan cepat, dipaksa memenuhi standar manusia di sekitar kita, dan terus disibukkan oleh berita serta perbandingan hidup di media sosial. Tanpa sadar, kita sibuk merawat fisik, merawat karier, dan merawat penampilan, namun kita lupa merawat jiwa yang berada di dalam dada ini.
Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita tentang hakikat dunia. Dunia ini diciptakan bukan sebagai tempat tinggal yang abadi, melainkan tempat berjuang yang penuh ujian. Namun, Allah yang Maha Lembut tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjuang sendirian. Allah Azza wa Jalla menyampaikan pesan yang sangat menyejukkan dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6:
| فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6) |
Para ulama tafsir menjelaskan betapa indahnya bahasa Al-Qur’an dalam ayat ini. Allah tidak menggunakan kata “setelah” kesulitan, melainkan “bersama” kesulitan. Artinya, di saat sebuah ujian hadir menyapa hidup kita, di detik yang sama Allah sebenarnya sudah menyertakan jalan keluar dan ketenangan di dalamnya.
Saudaraku yang sama-sama mengharapkan rahmat Allah, Ada 3 jalan lembut yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan sunah untuk mengembalikan ketenangan di dalam hati kita:
| 1. Jujur Menyadari Kelemahan Diri di Hadapan Allah
Salah satu penyebab utama mengapa jiwa kita merasa sangat lelah adalah karena kita sering kali berpura-pura kuat. Kita menanggung semua beban sendirian—masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan—seolah-olah kita memiliki kekuatan mengendalikan segalanya. Mengaku lemah di hadapan Allah bukanlah tanda kekalahan, melainkan pintu utama datangnya pertolongan Allah. Ketika kita melepas kesombongan diri, di situlah rahmat Allah akan memeluk jiwa kita yang dahaga. |
| 2. Menghidupkan Dzikir dan Menghadirkan Allah di Setiap Keadaan
Di era yang bising ini, obat paling ampuh untuk hati yang gelisah adalah kembali mengingat Allah. Jiwa manusia hanya akan menemukan rumah kedamaiannya saat terhubung kembali dengan Sang Pencipta. QS. Ar-Ra’d: 28: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Dzikir yang dilakukan dengan penuh penghayatan akan meruntuhkan gunung beban yang menindih dada kita. |
| 3. Belajar Melepaskan dan Bertawakal dengan Sepenuh Hati
Tawakal bukan berarti diam tanpa usaha. Tawakal adalah ketika tangan dan kaki kita bekerja keras berikhtiar di jalan yang halal, namun hati kita bersandar sepenuhnya kepada takdir Allah. Relakanlah apa yang bukan milik kita, dan percayalah pada skenario Allah. Yakinlah bahwa takdir yang Allah pilihkan untuk seorang hamba selalu lebih baik daripada rencana yang disusun oleh hamba itu sendiri. |
Jamaah Jumat yang berbahagia, Mari kita ingatkan diri kita masing-masing: Jangan sampai dunia yang sementara ini mencuri kedamaian hati dan kebahagiaan akhirat kita. Jika hari ini engkau merasa lelah, pulanglah kepada Allah.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
| الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ. |
Jamaah yang dirahmati Allah, Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita di mana pun kita berada. Di akhir khutbah ini, marilah kita perbanyak mengucapkan shalawat dan salam kepada teladan utama kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
DOA PENUTUP KHUTBAH
| اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى. اللَّهُمَّ ارْحَمْ وَالِدَيْنَا، وَاغْفِرْ لَهُمَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمَا، وَاجْزِهِمَا عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ. اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَعْمَارِنَا، وَفِي أَعْمَالِنَا، وَفِي أَهْلِنَا، وَفِي أَرْزَاقِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. |
Tinggalkan Komentar