SEKILAS INFO
: - Selasa, 25-06-2024
  • 1 minggu yang lalu / Ingin ikut berqurban di Pesantren ??  Hub (WA) 0821-2000-9366 (Ust. Muh. Sidiq)
  • 5 bulan yang lalu / Bingung pilih pondok Tahfidz atau pondok IT ? di Darul Fithrah kamu bisa dapat keduanya. Lebih Efektif & Efisien
  • 9 bulan yang lalu / Penerimaan Santri Baru ponpes Darul Fithrah resmi di buka
SIFAT-SIFAT NEGATIF GURU (3) Terlalu Banyak Bercanda

Bercanda atau bersenda gurau adalah hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Candaan menjadi salah satu cara untuk merefresh otak, sehingga suasana belajar menjadi lebih cair dan tidak kaku. Senda gurau juga sarana untuk menghilangkan kebosanan di tengah-tengah belajar. Karena jika otak sedang di puncak kejenuhan, maka sesederhana apapun materi yang disampaikan, otak akan kesulitan untuk menangkapnya. Maka dengan adanya senda gurau, otak bisa rehat sejenak dan kembali ke kondisi yang nyaman untuk melanjutkan belajar.

Maka di antara skill yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah skill mencairkan suasana kelas atau kemampuan untuk bercanda bersama. Bercanda bersama murid bisa dengan bercerita lucu, tebak-tebakan, permainan seru atau bernyanyi bersama. Tapi dalam bercanda juga harus memperhatikan batasan-batasannya. Karena esensi dari bercanda adalah sama-sama senang, maka tidak boleh ada pihak yang dirugikan atau direndahkan. Maka sungguh tidak pantas bercanda dengan mengolok-olok fisik atau mentertawakan kekurangan orang lain.

Porsi Candaan = Porsi gula

Porsi candaan atau sendau gurau dalam proses pembelajaran sama dengan porsi gula dalam secangkir teh. Secukupnya. Teh jika tanpa gula akan terasa pahit dan tidak enak untuk dinikmati. Adapun jika terlalu banyak akan menjadi sangat manis, juga tidak nikmat untuk diminum. Bahkan menjadi bahaya bagi kesehatan. Begitupun kelas yang tidak ada selingan candaan, akan terasa hambar, monoton, kaku dan berakhir membosankan. Tapi jika terlalu banyak bercanda, tujuan dari pembelajaran tidak akan tercapai. Waktu menjadi terbuang sia-sia, dan ilmu yang seharusnya didapat oleh murid malah tidak tersampaikan.

Maka PR baru bagi seorang guru selain mampu untuk bercanda adalah mampu untuk mengolah porsi candaan yang diberikan kepada murid. Agar di satu sisi, para murid tidak merasa jenuh dalam belajar, dan di sisi lain mereka mendapatkan materi dan ilmu sesuai yang ditargetkan.

Bahaya Terlalu Banyak Bercanda

Terlalu banyak bercanda memiliki dampak negatif yang serius bagi guru maupun muridnya. Seorang guru yang terlalu banyak bercanda bisa turun wibawanya dan jatuh kharismanya di mata para muridnya. Alhasil, bisa jadi guru menjadi kurang dihormati karena murid-muridnya akan menganggapnya layaknya teman bercanda. Ketika guru kurang dihormati, ia akan mudah disepelekan dan tidak ditaati. Bisa juga ketika guru memberi suatu pesan yang serius, murid-muridnya akan mengiranya sebagai candaan karena saking seringnya ia bercanda.

Sedangkan dampak negatifnya bagi murid adalah murid bisa jadi akan menjadikan gurunya sebagai qudwah (panutan). Ia akan meniru sikap gurunya yang banyak bercanda. Ketika seseorang sudah terbiasa dengan bercanda, ia akan susah untuk serius dan sungguh-sungguh.

 Khathib al-Baghdadi dalam kitab Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’ memperingatkan para pengajar tentang hal ini. Beliau berkata, “Hendaknya seorang pengajar menjaga diri dari sendau gurau di majlisnya, karena hal itu dapat menjatuhkan kehormatan dan mengurangi wibawa.” Beliau juga menukil perkataan Umar bin Khattab kepada Ahnaf bin Qais, “Wahai Ahnaf, barang siapa banyak tertawanya, maka sedikit wibawanya. Dan barang siapa banyak melakukan suatu hal, maka ia akan dikenal dengan itu. Dan barang siapa (banyak) bercanda maka akan diremehkan.”

Rambu-Rambu Bercanda

Dalam Islam, bercanda dan bersendau gurau hukumnya mubah dengan syarat memperhatikan batasan-batasannya. Karena dahulu, Rasulullah ﷺ juga pernah bercanda bersama sahabat-sahabatnya. Hanya saja Rasulullah tidak pernah bercanda ataupun berkata kecuali kebenaran. Maksudnya, meskipun beliau bercanda, ucapan beliau selalu mengandung kebenaran. Tidak ada dusta atau kebohongan di dalamnya. Batasan-batasan dalam bercanda di antaranya adalah:

1. Tidak mengandung dusta.

2. Tidak menjadikan agama sebagai objek candaan, karena bisa menjadi wasilah pada kekufuran tanpa disadari.

3. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti perasaan orang lain.

4. Tidak berlebihan.

5. Melihat kondisi, waktu dan tempat, karena tidak di semua situasi, tempat dan waktu diperbolehkan untuk bercanda. Wallahu a’lam bish shawab.

[Mujahid Ammar]

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.