SEKILAS INFO
: - Selasa, 27-02-2024
  • 1 bulan yang lalu / Bingung pilih pondok Tahfidz atau pondok IT ? di Darul Fithrah kamu bisa dapat keduanya. Lebih Efektif & Efisien
  • 5 bulan yang lalu / Penerimaan Santri Baru ponpes Darul Fithrah resmi di buka
Agar Shalat Lebih Berkualitas

Mukaddimah

Bersyukur atas segala apa yang Allah telah berikan kepada kita. Sehat, sempat, dapat menggunakan sehat dan sempat untuk kebaikan, semuanya adalah nikmat yang perlu kita nikmati dan syukuri.

Shalawat serta salam atas Nabi yang telah mencontohkan bahwa hakikat ketenangan dan kebahagiaan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah, yang terangkum dalam shalat 5 waktu.

Bahasan utama

   ▪   Hadits Nabi di musnad Imam Ahmad dengan sanad yang Hasan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا: النِّسَاءُ، وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Aku telah dijadikan senang dalam perkara dunia wanita serta wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam shalat.”

Perhatikan lafal ‘di dalam shalat’ Nabi tidak mengatakan ‘dengan shalat,’ kenapa? Ibnul Qayyim menjawab bahwa Nabi hendak mengabarkan kepada kita bahwa sejuknya mata (hati) beliau adalah setelah masuk di dalam ibadah shalat, seperti bahagianya seorang ketika ia memeluk orang yang dicintainya.

   ▪   Dalam sunan Abu Daud yang semua perawinya tsiqah Rasulullah berkata :

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, dirikanlah shalat, buatlah kami istirahat dengannya.”

Maka perhatikanlah, hakikat shalat adalah sebagai penyejuk hati, shalat adalah penenang jiwa, shalat adalah taman yang sangat indah, shalat adalah jamuan hati yang Allah telah karuniakan untuk hambanya. Jamuan yang beraneka isinya, supaya tidak membosankan, terkadang dua, terkadang tiga, empat.

Jamuan yang waktunya pun diatur sedemikian rupa, lelahnya hamba dari hiruk pikuk dunia tak cukup hanya sekali atau dua kali hatinya tersiram oleh hangatnya kedekatan Ilahi. Lima kali dalam sehari dengan waktu yang berdekatan, seharusnya benar-benar dapat menyiram kalbu dan merubah langkah menjadi lebih baik.

Timbul pertanyaan bagaimana Nabi SAW, para sahabat, serta orang-orang saleh bisa nikmat dengan shalatnya? Bagaimana shalat benar-benar menjadi penyejuk hati mereka? benar-benar seakan mereka sedang masuk di dalam taman yang sangat indah sehingga lelahnya hati dari dunia bisa sirna setelah masuk di dalamnya?

Bahkan, benar-benar shalat menjadi solusi dari segela permasalah mereka? seperti yang telah Allah firmankan:

وَٱسۡتَعِینُوا۟ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِیرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِینَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat yang dapat menjadi penolong) itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45)

Adapun dengan sabar, yaitu dengan segala tiga macam sabar yang ada. Adapun dengan shalat, maka shalat adalah penguat hati, di hadits Hudzaifah bahwa jika nabi merasa berat dalam sebuah perkara (Malam perang Ahzab) beliau shalat, di hadits Ali pada malam Badar semua sahabat tidur untuk persiapan, kecuali Nabi SAW (dan Ali tentunya), beliau bangun shalat dan berdoa hingga pagi. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Nabi pernah menyuruh Abu Hurairah shalat ketika perutnya sakit, dan berkata, “Sungguh shalat itu obat.”

   ▪   Apa itu khusyu’?

Ali bin Abu Thalib mengomentari Ayat ke dua dari surat Al-Mukminun :

هو الخشوع في القلب, وأن تلين كنفك للمرء المسلم, وأن لا تلتفت في صلاتك

Yaitu adalah khusyu’ di dalam hati, engkau melembutkan perilakumu terhadap sesama muslim, dan tidak menoleh ketika shalat.

Sehingga khusyu’ adanya di dalam hati yang kemudian terlihat dalam perilaku, adapun tambahannya di dalah shalat adalah tenang, tidak menoleh ke kanan ataupun ke kiri.

Al-Hasan Al-Bashri berkata :

كان الخشوع في قلوبهم, فغضوا له البصر, وخضوا له الجناح

Kekhusyu’an ada di dalam hati mereka, mereka pun merundukkan pandangan, dan melembutkan perilaku.

Qatadah bin Da’amah berkata :

الخشوع في القلب هو الخوف وغض البصر في الصلاة

Kekhusyu’an di hati adalah rasa takut dan merunduknya pandangan ketika shalat.

Imam Al-Qurthubi mendefinisakan khusyu’ dengan mengatakan :

وأصل الخشوع : التواضع والتذلل والاستكانة

Dasar dari khusyu’ adalah merendah hati, merendahkan diri, serta tunduk.

Dari beberapa paparan para ulama di atas dapat kita lihat bahwa khusyu’ bukanlah perkara lahir, namun batin, serta hati yang khusyu’ secara otomatis akan menggiring anggota tubuh menjadi khusyu’.

Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bin Yaman, bahwa suatu ketika ia melihat seorang yang shalat menggerak-gerakkan tangannya dengan sia-sia ketika shalat, lalu ia berkata, “Andaikan hatinya khusyu’ niscaya anggota tubuhnya pun akan menjadi khusyu.”

   ▪   Betapa pentingnya untuk terus menata dan mengoreksi hati, dan bahwa hal tersebut adalah tugas abadi hingga mati.

Jika hati lah titik fokus utama kita agar shalat kita dapat khusyu’ yang kemudian shalat yang khusyu’ tersebut dapat mendatangkan ketenangan jiwa serta menjadi solusi dari berbagai permasalahan hidup kita, maka sepantasnya kita tidak boleh enggan untuk selalu merendahkan hati dan diri kita, selalu menata dan mengoreksi hati, membersihkannya dari segala penyakitnya, takabbur, merasa lebih mulia dari saudara lainnya, keras tak mau mecerna sebuah nasehat, hasrat yang belebihan terhadap perkara dunia, dst.

Bukankah tugas utama Rasulullah SAW diutus di muka bumi ini ada 3, dan ini sekaligus menjadi pokok ilmu dalam agama islam. dalam surat Al-Jum’ah ayat 2 disebutkan :

{ هُوَ ٱلَّذِی بَعَثَ فِی ٱلۡأُمِّیِّـۧنَ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ }

Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Tiga ayat dalam Al Quran yang senada, yang disetiapnya memiliki keunikan tersendiri :

– Al Baqarah 129 : yang awalnya rabbana wab’ats fihim, dengan nada doa, yaitu adalah doanya Nabi Ibrahim As. maka dalam sebuah hadits dikatakan :

أنا دعوة أبي إبراهيم وبشري عيسى

Aku adalah doa dari bapakku Ibrahim, dan kabar gembira dari Isa.

– Ali Imran 164 : yang awalnya laqad mannAllah alal mukminin (Sungguh Allah telah memberi hadiah kepada orang-orang yang beriman). Sehingga lahir dan diutusnya Muhammad  Rasulullah menjadi rasul sehingga kita sekarang termasuk umatnya merupakan karunia, hadiah terbaik Allah untuk kita kaum muslimin.

– Al Jumah 2 : yang awalnya huwalladzi ba’atsa fil ummiyyin rasulan minhum, (Dia lah Allah yang telah mengutus untuk kaum buta utusan dari kalangan mereka) yaitu ketetapan dan pengakbulan doa Nabi Ibrahim.

   ▪   Sholat secara fisik telah menuntut kita agar kita rendah (secara fisik).

Semoga Allah merahmati kita dan menuntun hati kita agar mudah tunduk terhadap keagungan-Nya. Ibnul Qayyim dalam Asrarus Shalat memaparkan bahwa setiap gerakan dalam shalat ada rahasia dan hikmahnya, dari mulia kita takbir hingga salam, dari mulai bacaan atau pun gerakan. Yang sebenarnya semuanya menuntut kita agar kita benar-benar merendah di hadapan sang khalik, baik dengan fisik maupun hati.

✅Ketika seorang mulai masuk di shalat dengan Takbir (Allahu Akbar), hendaknya hati nya merasakan dan mengatakan bahwa selain Allah adalah kecil. Rasakan bahwa dirinya sedang bermunajat dengan Dzat yang Maha Besar, anggaplah kecil seluruh masalah dan perkara selain Dzat Yang Maha Agung tersebut.

✅ Ketika berdiri dan meletakkan kedua tangan di perut maupun dada, orang Arab tidaklah melakukan tersebut kecuali hendak merendahkan hati mereka di hadapan orang yang sedang mereka ajak bicara. Ketika shalat, pada hakikatnya kita sedang berbincang dengan Allah SWT, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim :  

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا كَانَ فِي الصَّلاَةِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

“Jika seorang berada di dalam shalat, maka sesungguhnya ia sedang membisikkan isi hatinya dengan Rabbnya.”

✅ Ketika ruku’ dan sujud, terlebih ketika sujud. Termasuk salah satu syarat sah sujud adalah bahwa sisi belakang sesoorang (dubur) harus lebih tinggi dari sisi atasnya (kepala). Kepala yang merupakan pusat akal dan pengetahuan manusia diharuskan untuk lebih rendah dari sisi belakang tempat keluarnya sisa makannya. Apa hikmah dibaliknya? Manusia betul-betul diperintahkan untuk merundukkan diri serta hatinya di hadapan Al-Maula Azza wajalla.

✅ Sujud diwajibkan dua kali di setiap rakaatnya sungguh menjadi penekan agar manusia hendaknya betul-betul merunduk dengan diri serta hatinya di hadapan Allah SWT.

   ▪   Apa saja langkah yang setidaknya membantu agar shalat kita lebih berkualitas?

  • Persiapkan shalatmu seperti engkau mempersiapkan diri menghadap manusia yang engkau hormati. Dari pakaian, badan dengan berwudu atau bersuci, dst.

 یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِینَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدࣲ وَكُلُوا۟ وَٱشۡرَبُوا۟ وَلَا تُسۡرِفُوۤا۟ۚ إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِینَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaian kamu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

  • Hadirkan di dalam hati bahwa mungkin saja shalat ini adalah shalat terakhir yang kita tunaikan, dalam kata lain selalu rasakan bahwa ajal tak kenal waktu.

Itulah mengapa setelah Allah berfirman illa ‘alal khasyi’in disambut setelahnya dengan ayat :

  ٱلَّذِینَ یَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَیۡهِ رَ ٰ⁠جِعُونَ

(Yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Begitu juga dengan seorang Tabiin yang mewasiatkan anaknya agar merasakan bahwa bisa shlatnya tersebut adalah shalat terakhir. Dalam Mushannaf bin Abi Syaibah :

عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ: أَوْصَى رَجُلٌ ابْنَهُ فَقَالَ وَإِذَا صَلَّيْتَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ لَا تَرَى أَنَّكَ تَعُودُ

Dari Abdul Malik bin Umair berkata, “Seorang lelaki memberikan wasiat kepada anaknya dengan berkata, ‘Dan jika engkau shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah yang meyakini bahwa ia tak akan lagi kembali.’

Semakna dengan ini, ada sebuah hadits dari Nabi di sunan Ibnu Majah dan musnad Ahmad namun sanadnya lemah.

  • Meninggalkan maksiat dan apapun yang di larang oleh Allah SWT

sebab kemaksiatan akan menjadikan hati hamba menjadi hitam, sehingga akan berat dan sulit untuk melihat cahaya Allah di dalam shalatnya, dengan demikian akan sulit pula merasakan kekhusyu’an dan ketenangan dalam shalatnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad yang shahih :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertobat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya.”

  • Mendalami kembali fiqih shalat secara terperinci.
  • Mengetahui arti bacaan yang kita baca ketika shalat.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita shalat khusyu’ yang dapat menenangkan jiwa dan menjadi penyejuk mata hati

Ust. Bahak Asadullah Lc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Penerimaan Santri Baru 2023/2024

Arsip