SEKILAS INFO
: - Senin, 17-06-2024
  • 3 hari yang lalu / Ingin ikut berqurban di Pesantren ??  Hub (WA) 0821-2000-9366 (Ust. Muh. Sidiq)
  • 5 bulan yang lalu / Bingung pilih pondok Tahfidz atau pondok IT ? di Darul Fithrah kamu bisa dapat keduanya. Lebih Efektif & Efisien
  • 8 bulan yang lalu / Penerimaan Santri Baru ponpes Darul Fithrah resmi di buka
Self Management Dalam Belajar Ala Ulama Salaf (Bag. 2)

Self Management Dalam Belajar Ala Ulama Salaf (Bag. 2)

Oleh: Mujahid Ammar

  1. Membersihkan hati dari kotoran dan penyakit hati
  2. Memperbaiki niat sebelum dan ketika belajar
  3. Memanfaatkan masa mudanya untuk mencari ilmu dengan maksimal
  4. Merasa qona’ah dengan pakaian dan makanan yang ada
  5. Mengatur waktun sebaik mungkin

(5 poin di atas telah dibahas di tulisan sebelumnya)

  • Mempersedikit makan meskipun itu halal

            Ibnu Jama’ah mengatakan bahwa banyak makan akan menyebabkan kantuk, rasa malas, sumber penyakit dan menumpulkan pikiran,. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir: “Dan sesungguhnya sebagian besar penyakit yang kau lihat, berasal dari makanan dan minuman”. Selain buruk dari sisi kesehatan, banyak makan juga makruh dari sisi agama. Banyak makan juga bukan termasuk sifat terpuji bagi para ulama ataupun penuntut ilmu, karena yang dipuji karena banyaknya makan hanyalah binatang ternak yang dipelihara untuk bekerja.

            Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 31, “dan makan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan.” Maka Seyogyanya bagi seorang muslim, terutama para penuntut ilmu adalah makan dan minum sesuai aturan yang telah Nabi sampaikan. Yaitu membagi perutnya menjadi 3 bagian, seperiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara.

  • Bersikap wara’

            Yaitu bersikap hati-hati dari hal yang syubhat di setiap urusannya. Hendaknya seorang thalib selalu berusaha untuk tidak mengambil sesuatu kecuali yang telah diketahui kehalalannya. Baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan apa-apa yang ia serta keluarganya butuhkan. Karena barang siapa yang terjerumus pada hal yang syubhat, maka akan besar sekali potensi ia akan terjerumus pada yang haram.

            Sikap wara’ ini hendaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, karena sikapnya akan ditiru oleh orang-orang di sekitarnya. Jika ia bertindak serampangan tanpa mempedulikan halal haram, padahal dia adalah seorang yang dianggap berilmu oleh masyarakat, maka ditakutkan itu akan dianggap sebagai dalil dan akan ditiru. Dengan sikap wara’ juga, seseorang akan terjaga harga diri dan kehormatannya (muru’ah). Karena jika seseorang sering terlihat mengambil apa saja yang masih syubhat, maka ia akan terlihat rendah di mata manusia dan tidak dihormati.

  • Menjauhi segala hal yang menyebabkan lupa

            Faktor penyebab lupa ada 2 jenis, faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari kebiasaan ataupun perilaku seseorang. Sedangkan faktor eksternal berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Kedua jenis faktor ini harus dijauhi oleh seorang penuntut ilmu. Karena sebagaimana disebutkan dalam sebuah mahfuzhat bahwa bencana ilmu adalah lupa.

            Di antara contoh faktor internal penyebab lupa adalah maksiat, overthinking dan terlalu cemas dalam urusan dunia, kebiasaan buruk seperti malas dan lain sebagainnya. Termasuk penyebab lupa adalah masih banyaknya awa’iq, ala’iq dan awa’id pada diri seorang thalib, yang mana pembahasan tentang 3 hal itu telah dibahas di tulisan sebelumnya. Setelah berlepas dari hal-hal itu, hendaknya si thalib melakukan amalan-amalan yang dapat membantu menguatkan hafalan, seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, menulis dan mengulang pelajaran dan berdo’a agar dihindarkan dari penyakit pikun.

            Adapun faktor eksternal yang dapat menyebabkan lupa adalah konsumsi makanan yang menurut medis dapat menumpulkan daya ingat seseorang. Di antaranya adalah makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, makanan cepat saji (junk food), konsumsi gula dan kafein yang berlebihan dan minuman bersoda. Selain mengurangi konsumsi hal-hal tersebut, lebih baik lagi jika diiringi dengan menkonsumsi yang dapat memperkuat daya ingat, seperti ikan salmon, telur, kacang-kacangan, madu, brokoli, the dan air putih yang cukup.

  • Mengurangi tidur selama tidak membahayakan badan dan fikirannya

            Hendaknya tidak tidur lebih dari 8 jam sehari. Jika seandainya setiap hari seseorang itu tidur selama 8 jam, maka berarti ia telah menghabiskan sepertiga hidupnya hanya untuk tidur. Namun, jika bisa kurang dari 8 jam, maka itu lebih baik lagi. Dengan catatan, hak istirahat bagi tubuh tetap terpenuhi. Karena jika tubuh terus menerus dipakai untuk belajar atau beraktivitas lainnya tanpa jeda istirahat, maka akan menimbulkan bahaya atau penyakit. Kesimpulannya, seorang thalib haruslah bersifat pertengahan dalam mengambil waktu istirahat. Tidak terlalu banyak sehingga menyebabkan kemalasan, tidak pula terlalu sedikit sehingga tubuh akan mudah lelah dan pikiran akan susah untuk fokus dalam belajar.

            Juga tidak mengapa bagi seorang pelajar untuk mengisi waktu-waktu kosongnya dengan olahraga atau refreshing untuk menghilangkan kebosanan dan rasa penat dalam belajar. Karena setiap orang berpotensi mengalami kebosanan dalam aktifitasnya. Dengan melakukan kegiatan refreshing, pikiran bisa menjadi lebih fresh, otot-otot tubuh juga menjadi lebih santai, mata menjadi lebih jernih, dan hati menjadi lebih bersemangat. Sehingga akan menambah produktifitasnya dalam belajar atau pekerjaan lainnya.

  1. Meninggalkan pergaulan yang berlebihan dan kurang manfaat

            Seperti bergaul dengan orang yang terlalu banyak bercanda, orang malas dan orang-orang yang buruk perangainnya. Karena perangai seseorang itu bisa menular. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, perumpamaan orang yang rajin jika dia bergaul dengan orang-orang malas maka ia akan tertular kemalasannya secepat padamnya bara api jika diletakkan di dalam abu. Maka lingkungan dan pergaulan adalah faktor yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu.

            Karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, maka dalam belajarpun juga demikian. Seorang murid butuh kawan dalam belajarnya untuk berdiskusi, mengulang pelajaran dan saling mengingatkan. Maka hendaknya ia mencari kawan yang bersungguh-sungguh, wara’, dan berperangai baik. Sebagaimana tabiat buruk, tabiat baik juga bisa menular jika ia lebih mendominasi di suatu lingkungan.

            Juga hendaknya seorang penuntut ilmu menghindari bergaul dengan lawan jenis. Karena itu akan membuka pintu baru bagi setan dalam memalingkan seorang pelajar dari belajarnya. Juga yang harus dihindari adalah bergaul dengan orang-orang yang melakukan bid’ah atau berideologi menyimpang seperti liberalisme, pluralism, komunisme dan lainnya. Kecuali dalam posisi untuk menegakkan dan menyerukan kebenaran, yang tentu saja harus dilandasi dengan keilmuan dan aqidah yang kuat supaya tidak terpengaruh.

Wallahu a’lam bish shawab.

(Poin-poin pembahasan disarikan dari kitab Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim dalam bab “Adab seorang pelajar terhadap dirinya” dengan berbagai perubahan dan tambahan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.