SEKILAS INFO
: - Selasa, 25-06-2024
  • 1 minggu yang lalu / Ingin ikut berqurban di Pesantren ??  Hub (WA) 0821-2000-9366 (Ust. Muh. Sidiq)
  • 5 bulan yang lalu / Bingung pilih pondok Tahfidz atau pondok IT ? di Darul Fithrah kamu bisa dapat keduanya. Lebih Efektif & Efisien
  • 9 bulan yang lalu / Penerimaan Santri Baru ponpes Darul Fithrah resmi di buka
Asah senjatamu, wahai penuntut Ilmu!

Suatu pekerjaan akan dilakukan secara maksimal apabila didahului dengan persiapan yang matang. Layaknya orang yang hendak bepergian, tentulah ia akan melakukan persiapan perihal apa saja yang dapat membantunya dalam mempermudah perjalanan. Atau seorang pandai besi yang hendak membuat pedang yang berkualitas, tentu ia akan mengasah dan menempa pedangnya berkali-kali hingga tajam. Begitu juga hendaknya yang harus dilakukan oleh para penuntut ilmu, terutama ilmu syar’i.

Para penuntut ilmu hendaknya selalu mengasah kemampuannya dalam berbahasa agar menjadi sarana kemudahan dalam mendapatkan ilmu. Sehingga ketika sudah pada titik menyelami dalamnya lautan ilmu, ia akan merasa mudah dan sudah terbiasa dengan hal demikian. Adapun sebaliknya, jika dalam tahap mengumpulkan bekal  sudah tidak maksimal, maka dikhawatirkan akan mudah muncul rasa bosan serta putus asa, yang akhirnya menciptakan dugaan bahwa belajar ilmu syar’i itu tidak menarik. Tentunya, bekal utama yang harus selalu diasah bagi penuntut ilmu adalah kemahiran dalam bidang bahasa arab.

            Tidak dipungkiri bahwasanya bahasa adalah sebuah alat komunikasi pengantar pesan dari satu orang ke orang yang lain. Lawan bicara akan memahami apa yang kita maksud manakala bahasa yang kita gunakan baik dan benar. Begitu juga sebaliknya, apabila pemahaman terhadap sebuah bahasa masih kurang, maka pesan yang tersampaikan pun belum dipahami dengan maksimal. Berbicara tentang bahasa, Islam menggunakan bahasa arab sebagai bahasa pengantar atas otentikasi ketersambungan mata rantai sebuah ilmu. Uniknya, ketika ada salah satu dari huruf atau bahkan harokat tanda baca yang keliru, hal ini akan berpengaruh terhadap perbedaan makna dan maksud yang diinginkan. Oleh sebab itu, penuntut ilmu yang haus akan ilmu hendaknya mengasah senjatanya terlebih dahulu berupa pemahaman utuh terkait dengan bahasa arab. Hal ini sesuai dengan apa yang dimotivasikan oleh para salafus sholih terdahulu.

            Para ulama terdahulu selalu memotivasi penuntut ilmu agar mempersiapkan kemahiran bahasa arab sebelum memulai belajar ilmu syar’i. Bahkan disebutkan dikatakan dalam suatu riwayat bahwasanya sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma memukul anak-anak mereka atas kekeliruan dalam berucap. Sebabnya adalah bahasa arab merupakan sesuatu yang mendasar dan dibutuhkan dalam setiap bidang disiplin ilmu, terutama ilmu tafsir dan hadits. Sehingga al-Qur’an dan perkataan nabi tidak akan dapat dipahami maksud dan tujuannya dengan baik kecuali dengan adanya pemahaman bahasa arab dengan baik dan sempurna. Begitu juga kemahiran dalam bahasa dapat menjaga seseorang dari kekeliruan dalam melafalkan bacaan do’a. Seorang yang keliru dalam ucapannya, terlebih saat ia beribadah, akan menimbulkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang disyariatkan. Bahkan dikhawatirkan akan terjerumus dalam sebuah hadits nabi “Barang siapa yang berdusta atas namaku, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka.”

            Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperkuat bekal dalam kemahiran berbahasa arab, sehingga hal tersebut dapat dijadikan alat dalam mengarungi luasnya lautan ilmu Allah ﷻ. Wallahu A’lam.

(Dinukil dari kitab Syarh Mukhtassor Jiddan Li Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dengan beberapa perubahan.)

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.