SEKILAS INFO
: - Kamis, 23-05-2024
  • 4 bulan yang lalu / Bingung pilih pondok Tahfidz atau pondok IT ? di Darul Fithrah kamu bisa dapat keduanya. Lebih Efektif & Efisien
  • 8 bulan yang lalu / Penerimaan Santri Baru ponpes Darul Fithrah resmi di buka
Ilmu adalah kebutuhan

Ilmu merupakan kunci sukses seseorang dalam melakukan amal kebaikan. Baik atau buruknya kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh ilmu yang dimiliki. Apabila dikaitkan dengan amal kebaikan, semakin banyak seseorang belajar akan suatu ilmu, semakin merasa kurang dan ingin menambah kebaikan lainnya. Dan sebaliknya, semakin sedikit belajar semakin kecil motivasinya untuk melakukan amal kebaikan. Akhirnya tidak akan didapati pribadi muslim yang terus tumbuh dan berkembang. Padahal, seseorang akan tumbuh dan berkembang mana kala ia mendapat suatu ujian dan keluar dari zona nyaman.

Diantara bentuk seseorang keluar dari zona nyaman adalah ia terus berusaha mencari tambahan ilmu untuk menunjang bekal kehidupannya. Selain itu, para Nabi terdahulu pun Allah perintahkan untuk senantiasa mencari tambahan ilmu. Allah ta’ala berfirman :

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan Janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu dan katakanlah “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Q.S Thoha :144)

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata, “Ayat ini cukup sebagai bukti kemuliaan ilmu. Yaitu, Allah memerintahkan Nabi-Nya agar senantiasa meminta tambahan ilmu pengetahuan.” Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksudnya adalah tambahkanlah untukku dari ilmu-Mu”. Ibnu Uyaynah menuturkan, “Rosulullah selalu meminta tambahan ilmu hingga beliau wafat.”

Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi ummat nabi Muhammad agar selalu bertumbuh dan berkembang dengan senantiasa menuntut ilmu. Karena pada dasarnya, Allah tidak pernah memerintahkan Rosul-Nya untuk meminta tambahan dalam suatu perkara kecuali dalam perkara menuntut ilmu.

Adalah Nabi Musa alaihi salam, salah satu portet Nabi yang terus mencari tambahan ilmu. Walau ia seorang Nabi, memiliki kedudukan yang tingi, mendapat wahyu dari Allah, namun ia terus mencari tambahan ilmu hingga harus tertatih merasakan letihnya perjalanan. Nabi Musa tidak merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Jika seorang merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, niscaya Nabi Musa juga akan merasa cukup dengan ilmunya. Padahal, kenyataannya Nabi Musa terus mencari ilmu. Hal ini Allah ta’ala abadikan kisahnya dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 60-82.

Begitu juga dengan potret salah seorang sahabat, yakni Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Kesungguhan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu menajdikannya ia paling mengetahui kejadian diturunkannya al-Qur’an

Oleh Ust. Azmuhu Syahid

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Arsip