SEKILAS INFO
: - Jumat, 06-01-2023
  • 1 bulan yang lalu / Hadirilah !!! Kajian spesial bersama UZMA (Ust.Zulkifli Muhammad Ali LC,MA ) Rabu, 30 November 2022 pukul 19.30 – selesai
Memilih Amalan Produktif

Hidup Itu Terbatas

Segala sesuatu di muka bumi ini memiliki ajal, baik yang bernyawa ataupun tidak. Seperti manusia, hewan dan tumbuhan ajalnya adalah kematian. Adapun benda-benda mati di sekitar kita maka ajalnya adalah rusak ataupun kehancuran. Untuk manusia, Allah telah utus malaikat untuk menuliskan takdirnya ketika peniupan ruhnya. Yang meliputi tentang rezekinya, kematiannya dan apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara. Maka sebuah kesalahan besar orang-orang yang berfikir bahwa ia akan hidup kekal di dunia, padahal dunia itu fana.

Jika diibaratkan seperti perjalanan, maka kehidupan didunia ini hanyalah waktu untuk mengumpulkan bekal. Dan kehidupan akhirat itu adalah perjalanan itu sendiri. Dan itu adalah perjalanan yang sangat panjang. Maka sungguh bodoh orang yang hendak melakukan perjalanan, tetapi malah membawa barang bawaan yang tidak berguna sama sekali atau bahkan memberatkan perjalanannya. Dan tiada bekal yang paling baik dalam perjalanan itu selain hanya ketakwaan kepada Allah. Yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya diiringi dengan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Waktu untuk menyiapkan bekal tersebut tidaklah lama, hanya singkat dan terbatas. Dan hanya orang yang cerdas yang bisa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang terbatas. Karena itulah Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira pada kita tentang pintu-pintu amalan yang tetap mengalir meskipun pelakunya telah tiada. Atau sering disebut sebagai amal jariyah. Apa sajakah pintu-pintu itu?

3 Pintu Amal Tak Terbatas

إذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ  – رواه مسلم 

“Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, bisa kita ketahui 3 pintu menuju amal jariyah:

1. Harta

Harta adalah pintu jariyah yang pertama. Dengannya seseorang bisa membuka jalan-jalan kebaikan untuk orang lain. Seperti membangun masjid, pesantren, panti asuhan dan lain sebagainnya. Sehingga setiap orang yang melakukan ibadah ataupun kebaikan di tempat yang ia bangun tersebut, akan mengalir juga pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya untuk membangun tempat itu. Juga ketika seseorang mewakafkan kendaraan untuk sarana dakwah atau mewakafkan Al-Quran untuk para santri, maka akan mengalir pahala bagi orang yang mewakafkannya selama barang tersebut dipakai, meskipun ia telah meninggal. Dari sini kita tahu begitu besarnya keutamaan harta jika berada di tangan muslim yang faham akan hal ini.

2. Ilmu

Ini adalah pintu kedua untuk meraih pahala tak terbatas. Tentu saja ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang diamalkan dan diajarkan. Ilmu akan menjadi jariyah setelah diajarkan pada orang lain. Karena jika ilmu hanya dipelajari dan diamalkan sendiri, maka pahala dari ilmu tersebut hanya akan kita dapat selagi bisa mengamalkannya, atau dalam kata lain selama kita hidup saja. Adapun setelah kita meninggal, maka berhentilah amalan tersebut dan berhenti juga pahalanya.

Lain halnya jika kita ajarkan kepada orang lain, maka selama orang tersebut beramal dari ilmu yang kita sampaiakan, maka akan sampai kepada kita meskipun kita telah tiada. Apalagi jika orang tersebut mengajarkan lagi kepada orang lain. Sungguh betapa banyaknya pahala yang didapat oleh generasi sahabat dan para salaf, karena dengan perantara mereka, ilmu-ilmu yang begitu banyak sampai kepada kita dan kaum muslimin di segala penjuru dunia. Sehingga dari setiap amal kebaikan yang kita kerjakan ada pahala yang mengalir kepada mereka.

3. Keturunan

Pintu pahala jariyah yang ketiga adalah keturunan yang sholeh. Karena hanya keturunan yang sholehlah yang kelak akan mendo’akan orangtuanya dan memohonkan ampun untuk mereka ketika telah meninggal. Adapun untuk menjadikan anak-anak menjadi sholeh-sholehah dibutuhkan tarbiyah yang tepat. Dan tak ada konsep tarbiyah di dunia yang lebih baik dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Maka sudah menjadi kewajiban bagi para orang tua yang mendambakan anak-anak yang sholeh untuk mendidik keluarganya dengan cara Nabi ﷺ.

Anak-anak bagi orangtuanya bagaikan pisau bermata dua. Ia bisa memberi manfaat ataupun membahayakan. Anak yang bermanfaat adalah anak yang berbakti semasa orangtuanya masih hidup dan senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka setelah mereka meninggal. Adapun anak yang membahayakan adalah yang durhaka pada orangtua dan ketika orangtua meninggal ia tak pernah mendoakan dan tidak pula memohonkan ampunan untuk mereka. Dan hal ini tidak lepas dari faktor pendidikan yang diberikan orangtua pada anaknya. Karena bisa jadi seorang anak menjadi lebih berbahaya lagi di akhirat ketika ia menyalahkan orangtuanya atas perbuatan buruknya semasa hidup. Disebabkan karena orangtuanya tidak memberinya contoh kebaikan atau bahkan mengajarinnya keburukan.

Begitu pula dengan dua pintu jariyah yang disebutkan sebelumnya, semuanya berpotensi menjadi dosa jariyah apabila tidak dikelola dengan baik dan bijak sesuai yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan ilmu yang banyak, seseorang bisa jadi menggunakan ilmu itu untuk menjilat pemerintah ataupun merusak agama hanya demi harta dan tahta. Sehingga orang-orang yang mengaguminya mengambil darinya ilmu yang telah ia rusak dan ubah-ubah. Maka mengalirlah kepadanya dosa-dosa jariyah dari ilmu sesat yang diamalkan oleh para pengikutnya. Seperti itu juga seorang hartawan yang dengan hartanya ia bangun tempat-tempat kemaksiatan. Karena itulah orang beriman yang dibukakan untuknya pintu-pintu jariyah tersebut harus jeli dan berhati-hati dalam mengelola ilmu, harta atau anak-anaknya.

Amalan Simpanan

Manusia membutuhkan sandaran berupa harta untuk menunjang kehidupannya di dunia. Cara mereka mendapatkannya pun bermacam-macam. Banyak dari mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari sandaran untuk kehidupan dunia dan lupa mencari sandaran untuk kehidupan akhirat. Padahal kehidupan di akhirat nanti lebih panjang, lebih rumit dan lebih membutuhkan sandaran berupa amal-amal kebaikan. Maka hendaknya seorang mukmin mengutamakan pencarian sandaran untuk akhiratnya tanpa melupakan bagiannya di dunia.

Mengumpulkan amal kebaikan itu harus seperti mengumpulkan harta. Jika banyak manusia berusaha untuk memiliki harta simpanan untuk berjaga-jaga jika suatu saat diperlukan, maka orang yang cerdas adalah yang berusaha untuk beramal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dijadikan simpanan amalnya. Dengan simpanan amalnya itu ia mengharap balasan dari Allah dan kemudahan urusan di akhirat kelak ataupun di dunia. Tentang hal ini Rasulullah ﷺ pernah bercerita tentang 3 orang yang terjebak dalam gua dan memohon pertolongan kepada Allah dengan ‘memecahkan’ celengan amal kebaikan masing-masing. Akhirnya dengan izin Allah merekapun bisa keluar dari gua tersebut.

Suatu ketika Umar bin Khattab ra bertanya pada Rasulullah ﷺ, “Siapa orang yang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab,

 أكثرُهم ذِكرًا للموتِ وأشدُّهم استعدادًا له أولئك هم الأكياسُ ذهبوا بشرفِ الدُّنيا وكرامةِ الآخرةِ

Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

Sesungguhnya Allah membukakan pintu-pintu amal untuk manusia sebagaimana Dia membukakan pintu-pintu rezeki. Maksudnya adalah sebagaimana setiap orang mendapat rezeki dengan cara yang berbeda-beda, mereka juga diberi kemampuan untuk berbuat kebaikan dengan amalan yang berbeda-beda. Ada yang Allah mudahkan baginya shalat tahajjud setiap malam, namun ia tak mampu untuk berpuasa sunnah di siang hari karena tuntutan pekerjaan. Ada yang dimudahkan untuk berpuasa sunnah, namun tak mampu untuk bersedekah karena terbatasnya harta. Ada juga yang bisa bersedekah setiap hari namun susah baginya bangun setiap malam untuk tahajjud. Begitulah Allah membagi-bagi pintu-pintu amal bagi setiap hamba-Nya. Maka hendaknya seorang hamba melihat potensi amal kebaikan yang Allah berikan padanya lalu memaksimalkannya.

Ust.Mujahid Ammar S.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip