SEKILAS INFO
: - Kamis, 20-10-2022
  • 4 minggu yang lalu / Ahad, 25 September 2022 pukul 08.00  Tabligh Akbar bersama Ust. Kholil Abu Ausath, SE
  • 2 bulan yang lalu / Sabtu 6 Agustus 2022 | Kajian Umum Tafsir Mimpi bersama Syaikh Ghamdan Ahmad Riziq Syuraih asal Yaman
  • 2 bulan yang lalu / Ahad 31 Juli 2022 | Kajian Ahad pagi bersama Ust Bahak Asadullah LC (Ketua Tahfidz Sanad Darul Fithrah | Alumni Universitas Islam Sudan Afrika
Rasulullah ﷺ, Anugerah Bagi yang Beriman Rahmat Bagi Semesta Alam

oleh : Ust.Mujahid Ammar S.

Beliau ﷺ Adalah Anugerah

Allah Sang Pemberi Nikmat memberikan karunia-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman ataupun yang kafir. Tetapi ada satu anugerah yang sangat besar yang hanya Allah berikan kepada orang-orang beriman saja. Maka sudah sepantasnya orang-orang yang beriman itu bersyukur dan berbahagia atas anugerah tersebut.

Anugerah yang besar itu berupa diutusnya seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad ﷺ yang telah membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan menyucikan jiwa-jiwa dan hati-hati mereka. Sehingga jiwa dan hati mereka bersih dari noda-noda kekafiran dan kotoran-kotoran kesyirikan.

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imran: 164)

Tujuan Diutusnya Rasulullah ﷺBerdasarkan ayat di atas, Allah Shubhanahu wa ta’ala menyebutkan tiga tujuan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sehingga beliau disebut sebagai karunia bagi orang-orang beriman:

1. “Membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,” Beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang indah dan menjelaskan maknanya. Padahal sebelumnya mereka dalam keadaan bodoh dan kesesatan yang nyata. Mereka tak mengenal syariat walaupun mereka mengaku berada di atas syariat Nabi Ibrahim. Mereka mengagumi dan membangga-banggakan syair-syair jahiliyah yang mereka karang sendiri. Hingga Rasulullah ﷺ datang dengan Al-Quran yang keindahannya jauh melampaui syair-syair mereka. Maka dengan karunia inilah orang-orang beriman bisa berbangga diri terhadap orang-orang kafir, karena apa yang dibacakan kepada mereka adalah bacaan paling indah di muka bumi.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa makna ‘ayat-ayat-Nya’ di sini adalah ayat-ayat kauniyah Allah. Yaitu ciptaan Allah berupa alam semesta dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Yang dengan mentadaburi ayat-ayat tersebut, iman orang-orang beriman akan bertambah.

2. “Menyucikan (jiwa) mereka,” Yaitu menyucikan jiwa mereka dari kesyirikan dan dari akhlak-akhlak tercela. Mengajak manusia untuk meninggalkan peribadatan terhadap sesama makhluk menuju peribadatan kepada Allah semata. Yang mana ini adalah misi utama seluruh rasul. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut’.” (QS An-Nahl: 36).

Setelah memperbaiki hubungan kepada Sang Pencipta dengan mengesakan-Nya, beliau juga memperbaiki hubungan kepada sesama makhluk dengan mengajarkan akhlaqul karimah. Tidak sebatas mengajarkan, tapi beliau juga menjadi role model dan teladan terbaik dalam hal ini. Karena menyempurnakan akhlak manusia juga termasuk dari tujuan diutusnya beliau. Beliau sendiri bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

3. “Mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (Sunnah).” Kemudian Rasulullah ﷺ juga menghilangkan kebodohan dari orang-orang beriman dengan mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada mereka. Yang mana keduanya itu adalah sumber pengetahuan dan pedoman hidup bagi manusia. Dengan pengajaran itulah mereka menjadi manusia yang berpengetahuan dan beradab. Mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya pengetahuan dan dari kebobrokan perangai menuju akhlak yang terpuji. Hal ini terbukti dengan fakta sejarah bahwa umat muslimlah umat yang pertama kali membuka jendala keilmuan dan adab di muka bumi ini.

Rahmat Untuk Semesta Alam

Selain sebagai anugerah bagi orang-orang yang beriman, diutusnya Rasulullah ﷺ secara umum adalah rahmat bagi semesta alam.
Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al Anbiya’: 107) Allah menyebut ‘rahmat’ dalam ayat ini untuk 2 hal. Yang pertama adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai utusan Allah, itu adalah rahmat. Dan ‘engkau’ yaitu Nabi Muhammad ﷺ itu sendiri adalah rahmat. Risalah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ itu adalah risalah yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang Allah. Risalah Islam mengatur manusia lengkap dari A hingga Z, dari urusan dunia sampai urusan akhirat. Bukan hanya mengatur keyakinan dan ibadah saja, tetapi juga mengatur seluruh sisi kehidupan mulai dari etika, akhlak, hukum, ekonomi, politik dan hubungan antar sesama. Semuanya diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, yang menunjukkan bahwa sedemikian luas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada manusia.

Makna Nabi Muhammad rahmatan lil’alamin bukan hanya sebatas rahmat untuk seluruh manusia saja. Para ahli tafsir mengatakan bahwa beliau adalah rahmat bagi seluruh alam mencakup tanaman-tanaman, hewan-hewan, para jin dan bahkan bagi para malaikat. Karena risalah Islam yang beliau bawa meliputi bagaimana adab terhadap sesama manusia, tanaman, hewan dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Risalah tersebut juga berisi bagaimana cara mengatur dan mengelola bumi serta cara menjaganya dari kerusakan. Sehingga manusia yang memahami dan mengamalkan risalah beliau pantas menjadi khalifah diatas muka bumi.

Bukan Agama Kekerasan

Bahkan di dalam peperangan, Islam tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah dengan rahmat-Nya melarang kaum muslimin menghancurkan tempat-tempat ibadah umat lain. Kaum muslimin juga dilarang untuk membunuh orang tua, wanita, anak-anak dan kaum laki-laki yang tidak ikut berperang dan tidak mengangkat senjata. Tidak boleh juga menghancurkan ladang, perkebunan dan rumah-rumah penduduk. Itu semua dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam setiap perang beliau dan diikuti oleh para pemimpin muslim setelahnya. Maka Islam sebagai rahmatan lil’alamin bisa terbukti dalam sejarah peradaban umat manusia.

Islam tidak pernah menjajah suatu bangsa. Alih-alih menjajah, Islam bahkan memberdayakan dan membangun suatu bangsa yang dimasuki dan dibebaskan dengan cahaya Islam. Penaklukan dalam Islam adalah untuk membangun dan memperbaiki, bukan untuk merusak apalagi menghancurkan suatu bangsa. Tidak pula untuk mengeruk dan mengekploitasi sumber daya alam dari suatu negeri. Selama 15 abad perjalanan sejarah Islam, sejak diutusnya Nabi Muhammad sampai ketika Islam memimpin peradaban dunia ini selama 13 abad, tidak pernah umat Islam ketika menaklukan suatu negeri memaksakan agama kepada negeri yang ditaklukkan.

Islam tidak pernah disebarkan dengan perang dan pedang sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang barat. Bahkan seorang orientalis asal Amerika, Thomas Carlyle mengatakan dalam bukunya On Heroes, Hero-Worship and The Heroic in History, mengatakan, “Adalah sebuah kebodohan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, jika ada yang mengatakan bahwa Islam itu disebarkan dengan kekerasan.” Gustaff Le Bon, seorang intelektual Prancis mengatakan dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke Bahasa Arab dengan judul Hadharatul Arab, tentang peradaban Arab, “Tidak pernah Islam itu disebarkan dengan kekerasan, hanya dengan dakwah saja.” Dan buku-buku sejarahpun menegaskan bahwa Islam tidak pernah menggunakan kekerasan apalagi sampai dengan membunuh dan membantai bangsa lain hanya untuk memaksakan agama.

Sungguh betapa luas rahmat yang telah Allah berikan pada seluruh makhluk-Nya. Rahmat-Nya dilimpahkan untuk seluruh makhluk baik yang berakal maupun tidak berakal, yang terlihat maupun ghaib, yang beriman maupun kafir. Dan beruntunglah orang-orang yang juga dikaruniai iman, yang dengan iman itulah ia telah dilebihkan atas makhluk-makhluk yang lain. Semoga nikmat iman ini tidak dicabut dari diri kita hingga kelak ajal menjemput kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip