SEKILAS INFO
: - Rabu, 05-10-2022
  • 1 minggu yang lalu / Ahad, 25 September 2022 pukul 08.00  Tabligh Akbar bersama Ust. Kholil Abu Ausath, SE
  • 1 bulan yang lalu / Sabtu 6 Agustus 2022 | Kajian Umum Tafsir Mimpi bersama Syaikh Ghamdan Ahmad Riziq Syuraih asal Yaman
  • 2 bulan yang lalu / Ahad 31 Juli 2022 | Kajian Ahad pagi bersama Ust Bahak Asadullah LC (Ketua Tahfidz Sanad Darul Fithrah | Alumni Universitas Islam Sudan Afrika

Dalam hidup manusia selalu mencari cari kebenaran. Karena memang jika manusia masih memiliki fitrah yang baik maka ia akan selalu memburu dan berusaha menemukan tentang kebenaran dari pertanyaan- pertanyaan hidup yang melintas di pikiranya. Sebagaimana anak kecil pada umumnya , saat mereka mulai menginjak usia balita, terkadang orangtua disibukan dengan pertanyaan pertanyaan sederhana namun rumit yang terlontar begitu saja dari lisan anaknya.

 “Ayah, Allah itu ada nggak sih?”

 “Bunda,kenapa kita harus takut sama Allah? Emang kita salah ya kok harus takut sama Allah?”, Ayah Bunda kenapa sih manusia seperti kita ini tidak punya sayap, kata bu guru ada makhluk yang punya sayap,kenapa kita nggak punya?”

  Bisa dibayangkan apa yang terjadi setelah itu. Sang Ayah mungkin akan menjawab dengan permisalan yang mudah dipahami oleh sang anak. Kemudian sambil mengernyitkan dahi, sang bunda pun mencoba untuk meyakinkan jawaban sang ayah kepada buah hatinya, agar anaknya itu kembali tenang dan tidak terpikirkan dengan pertanyaan pertanyaaan yang sebenarnya ketika datang suatu masanya nanti dia akan mengerti dan memahaminya sendiri.

  Saudaraku, inilah realitas kehidupan. Dalam hidup manusaia yang singkat ini manusia dituntut untuk selalu mengikuti kebenaran, terlebih bagi kita kaum muslimin yang Allah inginkan agar kita nantinya dapat mengakhiri nafas saat berada dalam jalan kebenaran, Singkatnya kita akan selalu mencari-cari kebenaran, berusaha memahaminya, mengidentifikasinya, dan mencari cari pembenaran atas segala apa yang telah kita lakukan.

  Namun dewasa ini, di era milenial yang setiap orang dengan sangat mudahnya dapat mengakses informasi hanya dengan ujung jarinya, di antara mereka ada yang keliru dalam memahami tolak ukur kebenaran dan parameter kesalahan. Terkadang sebagian orang memahami bahwa mereka yang benar adalah mereka yang mayoritas, sehingga pendapat apapun yang berasal dari kaum minoritas akan mendapatkan cercaan dan anggapan kesalahan, karena yang menjadi tolak ukur adalah banyak dan tidaknya.

  Di lain kondisi, terkadang asumsi benar dan salah itu tergantung pada mereka yang selalu dapat menjawab berbagai persoalan, sedang mereka yang hanya mampu untuk diam hanya akan dianggap orang yang tidak tahu menahu bahkan akan sering disalahkan karena diamnya mereka.

  Padahal ada salah seorang salaf yang mengatakan demikian “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara) ,manusia yang tidak melakukan ancaman,dan manusia yang banyak berdzikir kepada Allah.”
  Maka kita sebagai muslim sudah seharusnya menimbang lagi menilai hal ini dengan bijak dan adil.

Bukankah Allah telah mengajarkan bahwa kebenaran hanya mutlak berasal dari-Nya? Bahwa tolak ukur kebenaran adalah dengan menilainya melalui sarana pedoman terbaik umat ini, Al-Qur’an dan sunnah, Teringat kah kita pada kalam firman-Nya yang memaklumkan “kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau termasuk orang orang yang ragu.

  Mari kita teladani bagaimana para Ulama terdahulu memburu hakikat kebenaran dalam hidupnya,menilai dengan bijak antara benar dan salah,menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai barometer mereka dalam menimbang lagi dan menilai suatu permasalahan.

  Ada sebuah Teladan yang baik yang perlu kita mafhumi ,sejarah mencatat seorang Hajjatul islam akhir abad ke 20 masehi Imam Al Ghozali konon beliau rela mengasingkan diri dari hiruk pikuk keramaian hidup. Rela menjauh dari manusia demi mendapatkan keyakinan dari berbagai hal yang membuat ragu. Sepuluh tahun lamanya beliau menyibukan diri dengan Uzlah, Khalwat lagi mujahadah, Beliau menyibukan dirinya dengan menjernihkan hati, menyucikan jiwa lalu banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.

  Sampai akhir tersingkaplah keraguan yang sekian lamanya menyelimuti dirinya, Yang perlu kita tengok dan perhatikan disini adalah bagaimana beliau menempuh proses yang panjang demi menemukan, menimbang, lalu meniali hakikat kebenaran dalam hidupnya. Tidak serta merta dengan spekulasi ringan, menilai dengan asal, menentukan atas nafsu dan hasrat belaka. karena ukuran benar salah itu tergantung dari cara pandang dan mindset masing masing individu. Bukankah kita ini hanyalah manusia, Makhluk ciptaan-Nya yang sama sama diberikan akal dan hati, bukan malaikat yang selalu benar juga bukan iblis yang selalu salah. Kita ini hanyalah manusia yang kadang benar seringkali salahnya.

   Maka jangan terlalu sibuk menghakimi tanpa ada etika dan adab lagi pertimbangan yang baik.

Sebab ingat, kita ini manusia yang tidak menahu apa yang ada di benak manusia lainya, hingga tak menghakimi. Sebab setiap jiwa berhak untuk dihakimi. Sebab tiap jiwa berhak untuk dihargai lagi diprasangkai baik. Kita manusia tak pernah bisa memastikan apakah kita akan mendapat nikmat surga, lalu mengapa kita bisa memastikan yang lain menemui neraka?

sumber: Majalah An Nur edisi 82/2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman Terbaru

Daurah Karantina Persiapan 30 Juz Sekali Duduk

Daurah Hifdzut Tanzil Daurah Tahfidz 10 hari 5 juz

Arsip